baca saja..


« Home | tentang Alif »

Anak kecil boleh kok, baca majalah Playboy Indonesia :)

sumber : Jonru

Beberapa tahun lalu, sebuah percakapan dengan seorang psikiater menjadi titik balik dalam hidup saya. Saat itu saya sedang stress, kehilangan orientasi hidup. Hari-hari saya pun penuh dengan maksiat.

Fuadi Yatim, demikian nama psikiater yang amat baik hati tersebut. Saya mendatanginya suatu sore, sepulang dari kantor. Saya berharap, ia memberikan solusi atas masalah-masalah yang saya hadapi.

Di luar dugaan saya, ia memberikan sebuah gambaran yang amat mencengangkan. Diambilnya secarik kertas, lalu digambarnya sebuah garis lurus di sana. Lalu dibuatnya tiga buah titik di atas garis itu.

Titik pertama (A) adalah waktu sekarang.
Titik kedua (B) adalah saat kematian kita
Titik ketiga (C) adalah akhirat

Dia pun bertanya pada saya, "Menurut kamu, titik manakah yang menjadi tujuan hidup kita?"

"Titik C," sahut saya.

"Benar. Kita anggap saja titik C ini sebagai tujuan jangka panjang.Sedangkan di antara titik A dan B terdapat jutaan titik yang merupakan tujuan jangka pendek. Kamu setuju?"

Saya mengangguk.

"Sekarang, mari kita analisis. Kalau kamu melakukan maksiat, maka yang kamu capai adalah tujuan jangka pendek, yakni titik-titik yang terdapat di antara titik A dan B. Dan kamu tak akan berhasil mencapai titik C."

"Sekarang," lanjutnya, "Mari kita lihat perbedaan antara orang dewasa dengan anak kecil. Anak kecil itu itu umumnya bertindak dengan pikiran jangka pendek. Yang penting makanan itu enak. Yang penting asyik.Demikian seterusnya. Sedangkan orang dewasa adalah orang-orang yang berpikir jangka panjang.""Jika kamu masih suka berbuat maksiat, sebenarnya kamu belum dewasa. Kamu masih tergolong anak kecil. Sebab tujuan kamu adalah jangka pendek."

DEGGGGG!!!!

Ucapan itu benar-benar mengena di hati saya. Wajah saya memerah pertanda malu. Saya merasa ditelanjangi di depan Pak Psikiater yang amat pintar dan sholeh tersebut.

Saya lantas merenungi diri, mengingat lagi segala dosa dan maksiat yang telah saya perbuat selama ini. Duh, ternyata selama ini saya belum dewasa. Saya ternyata masih anak kecil yang hanya memikirkan pemuasan nafsu sesaat. Saya begitu menikmati saat-saat ketika saya memuaskan hawa nafsu. Padahal, itu semua hanyalah kenikmatan sesaat.

Saya pun ingat. Jika saya masuk surga nanti, saya akan bisa merasakan kenikmatan yang tiada tara, kenikmatan yang jauh lebih memuaskan dan membahagiakan.

Jadi, kenapa saya tidak sabaran? Jika saya memuaskan nafsu jangka pendek itu sekarang, , artinya saya akan kehilangan kepuasan jangka panjang disurga nanti, yang kenikmatannya benar-benar tiada tara. Sedangkan jika saya bersabar, menahan diri sebaik-baiknya, saya memiliki peluang untuk menikmati kebahagiaan jangka panjang yang tak terkira tersebut.

Sekarang, saya harus memilih yang mana? Menjadi orang yang sabar/dewasa dan menunggu kenikmatan jangka panjang, atau menjadi anak kecil yang mementingkan kenikmatan jangka pendek lalu kehilangan kenikmatan jangkapanjang yang tak terkira itu?

Saya pikir, saya harus membuat pilihan. Saya harus berubah!

* * *

Mohon maaf, Insya Allah saya membuat tulisan ini bukan dalam rangka narsis dan sebagainya. Saya menulis ini justru berangkat dari keprihatinan saya atar terbitnya majalah Playboy edisi Indonesia.

Bagaimana kita menyikapi majalah yang satu ini? Apakah kita akan menempatkan diri sebagai orang dewasa dan penyabar, atau tetap seperti anak kecil yang tak sabaran dalam menikmati surga dunia?

Semoga kita semua menjadi orang yang bersabar dan dewasa dalam segalatindakan. Amiin :)

Senayan, 13 Januari 2006
Jonru
masih terus belajar untuk menjadi orang dewasa